kayak gue..
Gue yakin gue bukan satu-satunya orang yang merasakan hal itu. Masih ada kakak gue. dan (mungkin) jutaan orang di luar sana.
Last Child - Diary Depresiku, Belakangan ini gue selalu dengerin lagu yang bisa dibilang cukup lawas ini. Entah lagi nyapu, cuci piring, nyuci baju, ataupun pas lagi menggelar solo konser gue di kamar. Menurut gue, lagu ini "gue banget". Bedanya ya gue ngga sampe tidur di jalanan ataupun minum minuman keras dan menggoreskan kaca di lenganku. Ngga, gue ngga se-anarkis itu, gue masih sayang nyawa. Dan satu lagi, orang tua gue (Alhamdulillah) belum cerai.
Malam ini hujan turun lagiBersama kenangan yang ungkit luka di hatiLuka yang harusnya dapat terobatiYang ku harap tiada pernah terjadi
Jujur aja gue trauma dengan keadaan keluarga gue. Gue hampir ngga pernah ngerasain gimana rasanya punya keluarga yang harmonis, gimana serunya jalan-jalan bareng keluarga yang bener-bener lengkap ada papa, mama, kakak, dan adek gue (yang ini bener-bener ngga pernah), gimana bahagianya saat kedua orangtua senyum kearah gue karena mereka bangga dengan gue..
Dan gue sangat ingin merasakan itu.
Dan gue sangat ingin merasakan itu.
Dari kecil, gue udah terbiasa dengerin dan tontonin orang tua gue berantem. Mereka saling hina, kasar, dan membela diri masing-masing, dan beberapa kali terjadi KDRT. And you know what? Semua hal itu menumbuhkan luka dan trauma bagi gue dan kakak gue. Gue kecewa dengan keadaan keluarga gue yang sama sekali nggak pernah gue harapkan akan seperti ini. Gue kecewa dengan orang tua gue yang selalu berantem di depan gue dan nanyain gue siapa yang salah diantara mereka. Gue kecewa dengan orang tua gue yang ninggalin gue dan papa gue di rumah selama berapa bulan. Gue kecewa dengan orang tua gue yang selalu ngomong kasar ke gue, kakak dan adek Gue tanpa tahu gimana sakitnya dikatain kayak gitu oleh ortu sendiri.
Dan semua kekecewaan itu bikin gue berubah. Awalnya gue adalah
anak baik yang rajin suka menabung sabar dan salehah, gue berubah menjadi anak kurang ajar
yang ngga tau sopan santun dan keras. Ngga kayak dulu. Gue berubah
karena dalam pikiran gue, inilah yang diajarkan oleh orang tua gue dari dulu. Menurunnya keadaan
ekonomi orang tua juga gue makin membuat gue stress dan jadi anak yang lebih
kurang ajar lagi.
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian..Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Yap, gue iri sama kalian semua. Gue iri sama tetangga-tetangga gue yang tiap hari gue liat duduk sama keluarganya sambil bercanda ria. Gue iri sama temen-temen gue yang setiap gue ke rumahnya, orang tuanya sedang duduk berdua sambil ngobrol dan berdebat tentang hal-hal kecil dan bikin mereka serta anak-anaknya tertawa (ples gue juga). Gue iri dengan hal-hal seperti itu.
Gue sekolah di SMA yang favorite di Kota gue. Muridnya kebanyakam pada pintar dan of course kaya raya. Masuk di sekolah ini makin membuat sifat gue yang udah nganjing malah lebih nganjing lagi. Gue menyalahkan orang tua gue atas semua keadaan gue. Iya, gue minder. Teman sekelas gue semua kursus dan gue engga. Teman-teman gue semua punya hp mahal dan gue enggak. Teman-teman gue semua bawa uang banyak dan gue enggak. Gue malu dan itu membuat perasaan kecewa gue makin besar sama orang tua gue.
Suatu hari, gue lagi berdua sama kakak gue. Dia curhat ke gue dan bilang bahwa "Kita itu salah didikan. Dari kecil kita sudah salah didikan sama orang tua. Mereka seharusnya bersukur kita enggak sampe pakai narkoba dan segala macam untuk pelampiasan..." dan kalimat pertama itu yang sampe sekarang tertanam di dalam hati gue. Jadi, selama ini orang tua gue emang salah mendidik anak-anaknya. Bukan hal-hal yang seperti ini yang seharusnya mereka ajarkan ke gue, bukan dengan kekerasan seperti ini.
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelamTiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Jadi yang "beda" itu ngga enak, man. Saat yang lain punya dan lo cuma bisa becanda dengan bilang "Yaelah itu doang. Entar kalo gue kaya gue beli sekarung yang begituan" itu pahit rasanya. Jauh di dalam hati gue, juga juga pengen kayak gitu. Gue juga malu kalian punya sedangkan gue nggak. Gue malu kalian bisa ini itu dan gue nggak. Gue malu kalian udah ngunjungin tempat apa aja sedangkan gue nggak. Dan lagi-lagi gue selalu menyalahkan orang tua gue.
Lo tahu, semua kekecewaan gue yang gue pendam membuat gue menjadi jauh sama Tuhan. Gue emang shalat lima waktu, tapi hati gue ngga bersih. Gue dipenuhi benci dan dengki. Hati gue jadi ngga sehat dan gue terlalu sering nangisin masalah gue sampai gue lupa bahwa yang selama ini yang harus gue lakukan hanyalah bersyukur.
Gue nggak pernah bersyukur atas apa yang gue punya. Gue selalu melihat ke atas, bukan ke bawah. Gue ngga pernah bersyukur bahwa at least, gue masih punya orang tua yang utuh. Gue masih punya rumah yang bagus. Gue masih disekolahin di sekolah yang bagus. Gue masih dibeliin baju setiap lebaran. Gue masih punya Handphone. Gue masih bisa lihat orang tua gue senyum walaupun sebentar sedangkan ada ratusan orang di luar sana yang bahkan ngga pernah lihat wajah orang tuanya. Dan kenapa gue masih mengeluh?
Gue nggak berhak menyalahkan semuanya kepada orang tua gue. Ini semua terjadi bukan karena kemauan orang tua gue. Gue sadar ini adalah bentuk ujian yang diberikan oleh Tuhan agar gue bisa lebih dewasa kedepannya. Ada banyak kenikmatan yang diberikan untuk gue tetapi gue abaikan gitu aja. Gue terlalu drama dengan selalu membawa-bawa masalah keluarga dan nyimpen semuanya di dalam hati gue menjadi dendam. Tuhan udah memberi gue semua yang bisa bikin gue bahagia, tapi kenapa gue masih bisa mengeluh?
Ada banyak hal yang bisa disyukuri dan dinikmati di dunia ini. Orang tua gue suka berantem bukan berarti kelak gue juga akan mengalami hal yang sama. Semua yang terjadi punya alasan masing-masing. Dan alasan kenapa Tuhan beri gue cobaan kayak gini ya agar gue bisa belajar memperbaiki hubungan keluarga gue di masa depan agar gue ngga mengalami musibah ini dua kali.
Dan gue harap, kalian yang baca tulisan gue juga bisa bersyukur dengan apa yang udah diberi sama kalian dan kalian bisa ngerti apa yang ingin gue sampaikan di tulisan gue ini.
Mama gue selalu bilang sama gue bahwa semua yang udah terjadi, semua yang udah gue saksikan di dalam keluarga maupun hidup gue, semua hal-hal pahit yang gue alami, semua masalah-masalah yang mampir, semuanya ambil sisi positifnya aja. Gue udah cukup gede untuk memilah yang mana baik dan yang mana yang enggak. Dan dari situ gue sadar, pikiran gue tentang orang tua gue ngga sepenuhnya benar, guenya aja yang belum cukup dewasa untuk mengerti hal-hal seperti itu. Mungkin suatu saat nanti gue akan mengerti saat gue mengalaminya sendiri.
Dan gue harap, kalian yang baca tulisan gue juga bisa bersyukur dengan apa yang udah diberi sama kalian dan kalian bisa ngerti apa yang ingin gue sampaikan di tulisan gue ini.
Mama gue selalu bilang sama gue bahwa semua yang udah terjadi, semua yang udah gue saksikan di dalam keluarga maupun hidup gue, semua hal-hal pahit yang gue alami, semua masalah-masalah yang mampir, semuanya ambil sisi positifnya aja. Gue udah cukup gede untuk memilah yang mana baik dan yang mana yang enggak. Dan dari situ gue sadar, pikiran gue tentang orang tua gue ngga sepenuhnya benar, guenya aja yang belum cukup dewasa untuk mengerti hal-hal seperti itu. Mungkin suatu saat nanti gue akan mengerti saat gue mengalaminya sendiri.
Remember one thing, Masalah datang untuk diselesaikan, bukan untuk didiamin apalagi dihindari. Di dunia ini semua orang punya masalah yang berbeda-beda, semakin besar masalah/ cobaanmu, maka kamu adalah orang yang kuat di mata Tuhan.
Sesungguhnya Kami menciptakan sesuatu sesuai ukuran.(QS. Al-Qamar -49)

Aaaa.... eotteoke? I'm cried 😂 if you need a friend to tell about your story, your problem or anything you want please tell me. i'll always stand by you 😗
ReplyDeleteBetul apa yg kau katakan tadi, setiap orang memiliki masalah masing-masing yg pastinya berbeda beda. Iri? Tidak perlu, Itu akan membawamu ke pikiran yang dangkal. Begitu jg Meyalahkan keadaan, itu akan semakin mempersulit masalah yg ada. "Dengan cara melihat masalah dari beberapa sudut pandang yg berbeda akan membawamu menuju kedewasaan" is it right? Of course^^
Sy jg pernah bertanya tanya "why i must have a family like this?' tapi alhamdulillah sy sudah dapat jawaban yg saya inginkan. Saya harap suatu hari nanti kau jg bisa mendapatkan semua jawaban dari pertanyaanmu.
Kau tidak perlu mencari kebahagiaan, kau bisa membuatnya dengan cara selalu bersukur atas nikmat yg di berikan oleh Allah SWT😊
Huwaaaaa.. I cried while reading ur comment 😭😭 thanks a lot for ur support, care, and ur attention to me. U're ku truly best friend 😘
Delete*sy pengen cerita semuanya sama kalian tp sy tdk mau bikin kalian bosan/eneg dgn ceritaku yang itu itu saja.. TT
Tapi kalau begini berasa gagal jadi teman, hiks sedih rasanya..TT
ReplyDeletekalau bukan cerita dengan kita dengan siapa lagi? Tdk perlu pendam sendiri.
Mari kita berjalan bersama, saling mendukung,membantu,menghibur dan menguatkan..
Hwaiting^^